Begini Penambang Bitcoin Dunia Terdampak Kerusuhan di Kazakhstan

Pemadaman internet secara nasional di Kazakhstan saat kerusuhan telah melumpuhkan hampir seperlima penambang bitcoin dunia. Sejumlah besar penambang memang telah bermigrasi ke negara Asia Tengah ini dari Cina pada tahun lalu.

Saat itu mereka harus menghindari kegusaran Beijing setelah suplai energi listriknya banyak disedot oleh industri mata uang digital ini, dan sekarang mereka kembali mendapat susah.

Bitcoin bergantung pada jaringan komputer yang kompleks yang dikenal sebagai penambang. Mereka yang bekerja dengan cara menyelesaikan problem-problem matematika untuk mendapatkan setiap bitcoin tersebut mengkonsumsi sejumlah besar listrik. Tapi, tanpa adanya koneksi internet, seluruh prosesnya itu tak bergerak.

Cina pernah tercatat sebagai rumah tambang bitcoin yang besar di dunia dengan penguasaan pasar mencapai 75,5 persen. Beijing kemudian menerapkan larangan per Mei tahun lalu yang menyebabkan seluruh penambang relokasi dan mencari negara yang lebih bersahabat.

Kazakhstan menjadi satu alternatif yang menarik bagi kelompok industri ini karena energi murah yang dimilikinya berlimpah. Tapi, karena bahan bakar fosil, termasuk batu bara, pada dasarnya sudah berkontribusi hingga lebih dari 90 persen kebutuhan energi listrik di negeri itu, Kazakhstan tak mereken dampak industri bitcoin yang rakus energi terhadap pemanasan global.

Aktivitas asal Kazakhstan hanya tercatat dalam 1,4 persen pasar uang kripto global pada September 2019. Pada Agustus 2021, pangsa pasar yang dikuasainya telah menjadi 18,1 persen. Pada waktu yang sama, penguasaan pasar oleh Amerika Serikat juga naik lebih dari dua kali lipat menjadi 35,4 persen, menjadikannya negara dengan aktivitas penambangan bitcoin terbesar di dunia.

Kini, meroketnya harga bahan bakar di Kazakhstan telah memicu kerusuhan di dalam negara itu. Bentrokan mematikan bahkan terjadi antara pengunjuk rasa dan aparat keamanannya. Presiden Kassym-Jomart Tokayev kemudian memerintahkan perusahaan telekomunikasi untuk menutup seluruh akses internet pada 6 Januari 2022 lalu.

Tanpa koneksi internet ke para penambang di lokasi lain di dunia, industri tambang bitcoin yang ada di Kazakhstan pun lumpuh. Menurut BTC.com, sebuah website layanan data industri cryptocurrency, hashrate global–ukuran daya komputerisasi yang didedikasikan untuk penambangan bitcoin—anjlok 14 persen antara Selasa dan Kamis pekan lalu (4-6 Januari 2022).

Koneksi internet secara sporadis mulai pulih di Kazakhstan beberapa waktu belakangan, namun berbagai laporan mengindikasikan kapasitasnya masih kecil dan jarang, serta belum stabil. “Tidak ada internet, ya tidak ada penambangan. Internet diblok di Kazakhstan. Operator seluler, internet di rumah, semuanya,” kata Didar Bekbau, seorang penambang bitcoin di Kazakhstan lewat akun Twitter.

NEW SCIENTIST

Leave a Reply

Your email address will not be published.